Selain faktor biaya, keluarga juga mengaku khawatir terhadap dampak psikologis yang mungkin dialami sang anak. Mereka menilai kegagalan masuk ke sekolah yang diinginkan dapat memengaruhi semangat belajar serta motivasi anak dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kami hanya berharap anak kami bisa diterima di SMAN Lumbung. Dengan sekolah yang dekat dari rumah, dia bisa belajar lebih nyaman, lebih tenang, dan kami juga tidak terbebani biaya tambahan yang besar,” tambahnya.
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai pelaksanaan sistem zonasi dalam SPMB, terutama terkait prinsip keadilan, transparansi, dan kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh calon peserta didik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia SPMB maupun manajemen SMAN Lumbung belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan orang tua siswa tersebut.
Masyarakat pun menantikan penjelasan dari pihak terkait guna memberikan kepastian informasi serta menghindari munculnya berbagai spekulasi di tengah proses penerimaan siswa baru yang masih berlangsung.
(Bersambung)
Reporter : (Ajat)



















