“Tidak mau dijual. Sudah jadi burung kesayangan. Saya masih ingin ikutkan lomba lagi ke depan,” tegasnya.
Keunggulan Murai Batu tersebut terletak pada kemampuan menirukan tujuh jenis suara burung berbeda, yang menjadi nilai plus di mata dewan juri.
Haji Deden, selaku pemandu juri, menjelaskan bahwa Murai Batu tidak cukup hanya mengeluarkan kicauan asli.
“Burung harus cerdas. Tadi dia mengeluarkan suara Konin, Serindit, Pijantung, Kenari, Cililin, Gereja, dan terakhir Murai Air. Tajam sekali,” jelasnya.
Ia pun memberikan tips kepada para pencinta burung agar burung peliharaannya mampu menirukan beragam suara.
“Saat masa ganti bulu setahun sekali, burung harus dimaster. Bisa dengan pelihara burung lain atau pakai rekaman suara. Nanti dia akan menirukan bunyi yang sering didengar,” pungkasnya.
Kontes burung berkicau ini tidak hanya menjadi ajang adu kualitas kicauan, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian fauna, khususnya burung kicauan yang menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem.
“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian burung dan lingkungan,” tutup panitia. (Tatang Hidayat)



















