Kilaspendidikan.com Berita Ciamis, — Di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap mengikis nilai-nilai luhur kemanusiaan, sebuah oase kedamaian dan kebersamaan hadir di Kabupaten Ciamis. Adat kebersamaan dan toleransi yang sempat memudar kini mulai dibangun kembali secara nyata.
Pemandangan menyejukkan hati terlihat jelas di kompleks Gereja Santo Yohanes Pembaptis Ciamis, yang berlokasi di Jalan Pemuda, Ciamis, pada Minggu (28/06/2026). Berbagai elemen masyarakat berkumpul dalam kegiatan Bakti Sosial (Baksos) lintas iman bertajuk “Berbagi Tali Kasih” yang diinisiasi oleh Durian Kujang bekerja sama dengan Komunitas Peduli Sosial Ciamis.
Kegiatan ini bukan sekadar aksi bagi-bagi bantuan, melainkan sebuah simbol kebangkitan adat budaya Galuh yang mengedepankan welas asih dan rasa saling menyayangi antar sesama umat beragama tanpa sekat perbedaan.
Menghidupkan Kembali Adat Welas Asih Galuh
Hadirnya Ketua Majelis Adat Galuh raya, Rd. H. Wahyu, dalam kegiatan ini membawa angin segar bagi pelestarian nilai-nilai toleransi di tatar Galuh. Menurutnya, nilai-nilai saling menyayangi antar sesama manusia, apa pun latar belakang agamanya, adalah fondasi adat lama yang harus dihidupkan kembali di era modern.
Dalam wawancaranya, Rd. H. Wahyu menyampaikan pesan filosofis yang sangat mendalam:
“Hari ini, alhamdulillah Tuhan memberkati saya bisa bersilaturahmi dengan Romo dan jemaat yang ada di Gereja Santo Yohanes Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini adalah rutinitas kami. Saya bercermin dari alam, di mana matahari selalu menyinari sinarnya terhadap semua makhluk yang ada di muka bumi.”
“Kita sebagai hamba Tuhan, sebagai umat Tuhan, saya belajar dari alam. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat buat seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Harapan ke depan, semoga seluruh makhluk hidup yang ada di alam semesta ini—apa pun itu rasnya, apa pun itu agamanya—bisa saling menyayangi dan mencintai terhadap seluruh makhluk yang ada di alam semesta raya yang indah ini,” tutur Rd. H. Wahyu dengan penuh ketulusan.














