Momen Kehangatan dan Solidaritas
Salah satu momen paling menarik perhatian publik adalah sesi interaksi langsung antar peserta. Dalam potongan video yang beredar, terlihat para pejabat daerah, akademisi, dan mahasiswa duduk bersama di sofa panjang, saling bertukar sapa menggunakan bahasa isyarat dasar.
Tawa pecah saat beberapa peserta non-Tuli mencoba mempraktikkan isyarat “Terima Kasih” dan “Semangat”. Kehangatan ini menunjukkan bahwa bahasa isyarat adalah jembatan yang mampu menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Menghadirkan ‘Wajah’ Inklusivitas
Tak hanya diskusi formal, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan pemuda-pemudi berprestasi, termasuk pasangan Mojang Jajaka yang tampil anggun dengan selempang mereka. Kehadiran mereka menyimbolkan bahwa isu kesetaraan Tuli harus menjadi bagian dari gaya hidup dan kepedulian generasi muda masa kini.
“Melalui Hari Tuli Nasional ini, kita diingatkan bahwa setiap individu memiliki suara, meski tidak selalu terdengar oleh telinga. Suara itu ada di tangan mereka, di mata mereka, dan di hati mereka,” ungkap salah satu peserta yang hadir.
Langkah Nyata ke Depan
Peringatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana di atas meja seminar. Komunitas Tuli berharap pemerintah segera mempercepat implementasi regulasi terkait aksesibilitas komunikasi di seluruh sektor publik.
Dunia mungkin sunyi bagi mereka, namun semangat mereka untuk setara justru berteriak paling lantang. Kini pilihannya ada pada kita: apakah kita akan terus menutup mata, atau mulai belajar “mendengar” dengan hati?
(Heri Heryanto)



















