Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Abadi, Maha Dahulu, dan Maha Awal. Dengan karunia-Mu yang agung dan kemurahan-Mu yang mulia aku bersandar. Tahun yang baru ini telah datang. Aku memohon perlindungan-Mu dari godaan setan dan para pengikutnya. Aku mohon pertolongan-Mu untuk menundukkan nafsu yang selalu mendorong pada keburukan. Tuntunlah aku agar kesibukanku mendekatkanku kepada-Mu. Wahai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Perlu dipahami bahwa doa akhir dan awal tahun bukanlah doa ma’tsur (yang bersumber langsung dari Nabi Muhammad saw). Doa-doa ini merupakan doa pilihan para ulama, sebagaimana dinukil dalam sejumlah kitab, di antaranya Kanzun Najah was Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus dan Al-Fathul Mubin wad Durrut Tsamin karya Syekh Abdullah bin Muhammad Al-Khayyath Al-Harusyi, seorang ulama sufi asal Fes, Maroko.
Para ulama menjelaskan bahwa membaca doa tersebut diperbolehkan, selama tidak diyakini sebagai doa khusus yang disyariatkan Nabi saw atau dianggap sebagai kesunahan khusus pada momentum tahun baru Masehi. Doa tersebut dibaca dalam kerangka kesunahan berdoa secara umum, yang memang dianjurkan kapan pun dan dalam kondisi apa pun.
Di ambang pergantian tahun ini, kita dapat mengisi momen “Selamat Tinggal 2025, Selamat Datang 2026” dengan doa, muhasabah, dan mengungkapkan harapan. Bukan semata soal ritual, melainkan upaya menata hati dengan meninggalkan dosa, memperbaiki diri, dan melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang berharap dan berusaha. Wallahu a‘lam. (…..)










