Misi Pelestarian: Melampaui Sekadar Tradisi
Sebagai Ketua Adat, Raden Wahyu menekankan bahwa “Budaya yang harus dilestarikan” bukan hanya soal fisik bangunan atau ritual tahunan seperti Barongsai, melainkan nilai Toleransi yang ada di dalamnya.
“Kita harus sadar bahwa perbedaan adalah kekayaan. Jika kita bisa duduk bersama, menghargai tempat ibadah satu sama lain, dan merasa memiliki budaya masing-masing sebagai satu kesatuan Ciamis, maka itulah kemajuan yang sebenarnya,” tambahnya.
Harmoni di Bawah Langit Galuh
Kabupaten Ciamis selama ini memang dikenal sebagai daerah yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Kunjungan Ketua Adat ini seolah mempertegas kembali julukan tersebut. Kehadiran elemen adat lokal yang bersinergi dengan budaya Tionghoa menciptakan harmoni yang indah—sebuah pemandangan yang langka namun sangat dibutuhkan di era sekarang.
Raden Wahyu berharap, generasi muda di Ciamis tidak melupakan sejarah ini. Ia ingin agar situs-situs sejarah seperti kelenteng ini terus dirawat dan dijadikan sarana edukasi bagi masyarakat luas tentang betapa indahnya keberagaman.
(Heri Heryanto)
















