Kilaspendidikan.com. Berita Ciamis, — Potret kemiskinan dan ketimpangan sosial kembali terlihat jelas di tengah wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebuah bangunan rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri, Turkim (47 tahun) dan Mastuti Mutmainah (28 tahun), berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No. 174, RT 002/RW 006, Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis, kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari standar layak huni.
Yang membuat kondisi ini semakin ironis, rumah tersebut berdiri di kawasan strategis, tidak jauh dari pusat kota dan pusat pemerintahan. Namun, sampai saat ini ia seolah terlewatkan dan belum mendapatkan sentuhan bantuan perbaikan rumah dari pemerintah.
Suramnya Kondisi Rumah: Atap Bolong, Lantai Tergenang Air Hujan
Berdasarkan pantauan langsung dan dokumentasi di lokasi, kondisi fisik bangunan ini sudah sangat rapuh. Dari sisi luar, atap yang terbuat dari genteng dan seng sudah usang, berkarat, serta ditumbuhi tanaman liar. Dinding yang tersusun dari kayu dan anyaman bambu pun terlihat lapuk dimakan usia, sehingga kestabilan strukturnya patut diragukan.
Keadaan di dalam rumah jauh lebih memilukan. Sebagian besar atap dan langit-langit sudah bolong tanpa penutup, hanya menyisakan rangka kayu yang sewaktu-waktu dikhawatirkan bisa ambruk. Saat cuaca berubah menjadi buruk, rumah ini kehilangan fungsinya sebagai tempat berlindung yang aman.
Bagi Mastuti, hujan bukan lagi berkah, melainkan ketakutan tersendiri. Dengan raut wajah sedih dan mata berkaca-kaca, ia menceritakan penderitaan yang harus dialaminya bersama suami.
“Kalau sudah hujan, kami tidak bisa tenang. Rumah langsung bocor di mana-mana. Air hujan mengalir deras dari atap yang bolong, langsung masuk ke dalam rumah sampai lantai tergenang,” ujar Mastuti.
Dalam rekaman yang diambil saat hujan deras, terlihat air mengucur seperti air terjun mini di dalam ruangan. Area dapur, kompor, meja makan, hingga seluruh lantai basah terendam. Mastuti terpaksa menyediakan ember dan wadah plastik besar di berbagai sudut hanya untuk menampung air agar tidak merusak perabotan sederhana yang mereka miliki.
Kedua pasangan ini bekerja keras: Turkim sebagai pedagang kecil dan Mastuti sebagai buruh harian lepas. Namun penghasilan yang didapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Tidak ada sisa biaya sama sekali untuk memperbaiki atau merenovasi rumah mereka.


















